“Calon istriku adalah wanita soleha” adalah salah satu pikiran yang muncul, ketika seorang pria berniat menikahi seorang wanita berkerudung.
Berkerudung bagi seorang muslimah adalah sesuatu yang sangat dianjurkan oleh agama. Seorang wanita yang memutuskan menggunakan kerudung diharapkan memahami arti dan tujuan yang mendasarinya. Berkerudung memiliki maksud menutupi aurat yang diharapkan menjaga umat yang berada disekitarnya tetap dalam keadaan hati dan pikiran yang bersih. Namun yang lebih penting lagi adalah proses berfikir yang terjadi didalam diri wanita yang memutuskan untuk berkerudung.
Sesuatu yang bersih didalam seharusnyalah terpancar sampai keluar. Apabila yang sesuatu yang kotor didalam tetapi ditutupi agar terlihat bersih dari luar, ini yang sering kita sebut kemunafikan. Sikap, tingkah laku dan segala hal yang kita lakukan memiliki motivasi dan tujuan akhir. Oleh karena itu kita harus lebih tanggap dan cepat awas terhadap segala perubahan sikap maupun tingkah laku.
Bisa saja dirumuskan hipotesa bahwa ada 2 kemungkinan seorang wanita berkerudung:
1. Karena sudah matang pengetahuan keagamaan dan memiliki kedewasaan iman
2. Karena kemunafikan atau memiliki motivasi lain.
Semua yang berasal dari hati dan pikiran dan akan dimanifestasikan dalam sikap dan tingkah laku. Seorang wanita yang memutuskan menggunakan kerudung mesti memiliki hati dan pikiran yang sudah seharusnyalah lebih unggul dibandingkan wanita yang memilih untuk tidak. Keadaan ini semakin nyata di mana sebuah negara multi agama. Terdapat pilihan yang sifatnya lebih liberal dan kurangnya anjuran karena sudah ditinggalkannya nilai-nilai konvensional.
Wanita muslimah akan berbicara dalam hatinya, “untuk apa saya menggunakan kerudung toh diluar sana perempuan-perempuan menggunakan tank top dan hot pants bersliweran, yang ada nanti suami saya matanya lari ke mereka.” Pemikiran ini sangat wajar muncul. Namun seorang Muslimah yang matang pengetahuan dan dewasa iman akan menggunakan kerudung dengan keiklasan dan keyakinan bahwa Tuhan akan menjaga hati dan pikiran suaminya. Seorang wanita berkerudung harus memiliki suatu ketetapan hati bahwa suaminya lah satu-satunya lawan jenis selain keluarga sedarah yang menjadi sumber segala rasa penghargaan. Penghargaan atau pujian dari lawan jenis selain keluarga sedarah dan suaminya harusnya tidak memberikan perasaan menyenangkan jenis apapun. Suaminya seharusnya menjadi segala-galanya baginya, dunia dan akhiratnya. Pujian dari laki-laki lain seharusnya malah memberikan rasa risih seolah-olah melanggar aturan kesopanan. Sedangkan bagi perempuan berkerudung yang belum menikah hal ini dikarenakan keiklasan dan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan pasangan yang terbaik baginya selama dia manjadi hamba Tuhan yang baik.
Di Indonesia, bukan sebuah fenomena yang baru ketia kita melihat wanita berkerudung memakai baju dan celana yang ketat bahkan masih memperlihatkan sebagian lengan dan kakinya dan berteman akrab dengan pria yang bukan kelurga sedarah atau suaminya. Hal ini tentu saja bertentangan dengan sebab pertama dalam hipotesa dan mendekati sebab kedua dalam hipotesa.
Bagi orang tua-orang tua yang memiliki anak gadis yang berkerudung, sebaiknya melakukan interview mendalam dengan anak gadisnya yang tiba-tiba memutuskan menggunakan kerudung dan selalu mengawasi dan memperhatikan sikap dan tingkah laku sehari-harinya serta menggali pengetahuan dan kedalaman keimanan anak gadisnya. Apabila ada ketidak sempurnaan pengetahuan keagamaan, orang tua wajib membimbing dan memupuk keimanan sehingga tumbuh dewasa. Ini dikarenakan pergaulan di Indonesia saat ini sangat mencemaskan dimana system informasi sudah tanpa batas. Anak gadis bias saja menggunakan kerudung agar orang tua tidak mencurigai pergaulannya yang tidak baik diluar.
Bagi suami yang istrinya tiba-tiba memutuskan berkerudung juga perlu melakukan hal yang serupa. Karena perubahan yang radikal memiliki sebab yang seharusnya lebih dikaji. Hampir semua masyarakat mengetahui fenomena perselingkuhan. Memberikan image atau kesan baik untuk menutupi sebuah motivasi yang tidak baik sudah menjadi strategi yang banyak digunakan di dunia saat ini.
Pengetahuan yang benar dan keimanan yang dewasa dengan sangat mudah terpancar dari sikap dan tingkah laku sehari-hari. Semua agama Semit memiliki pemahaman yang sama mengenai kersihan hati dan pikiran juga niat. Penggunaan kerudung berlaku dalam agama-agama semit ini. Namun karena proses modernisasi semakin banyak umat yang meninggalkannya karena dianggap tidak penting.
Namun apapun yang baik dengan niat baik dan pemahaman yang benar sebaiknya tetap dilaksanakan demi menuju kesempurnaan seperti yang Tuhan mau. Demi kebaikan dunia ini.

I called it… “CRUEL IRONIC”
0.000000
0.000000